Selasa, 27 November 2012

Contoh Kasus INTERNALISASI, BELAJAR DAN SPESIALISASI



Orang Rusia Tergila-gila dengan Budaya Indonesia dan Mempelajari Bahasa Indonesia



Siapa bilang Indonesia tidak dikenal. Bagi penduduk Rusia bagian Timur, mereka mempelajari bahasa dan budaya Indonesia di Universitas Federal Timur Jauh atau yang dikenal dengan FEFU. Lulusannya dijamin cas-cis-cus berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Inilah salah satu jurusan Indonesia yang anyar yang perlu dibantu. Mau tahu tentang FEFU?

Universitas Federal Timur Jauh Rusia (Far Eastern Federal University/FEFU) saat ini menjadi salah satu perguruan tinggi terbesar, modern dan bertaraf Internasional di Rusia. Sebelumnya, Universitas ini bernama Universitas Nasional Timur Jauh (Far Eastern National University/FENU). Perubahan FENU menjadi FEFU setelah terjadi penggabungan beberapa sekolah tinggi dan perguruan tinggi yang ada di wilayah Timur Jauh Rusia.

Kampus FEFU yang baru ini berada di Pulau Russkiy dan saat ini belum digunakan untuk proses belajar mengajar. Lokasi kampus sangat cocok untuk tempat studi karena jauh dari hingar bingar keramaian kota besar. Kampus yang menghadap ke Laut Jepang ini dapat memberikan inspirasi dan ketenangan bagi mahasiswa dalam belajar.

FEFU tidak akan kalah bersaing dengan kampus-kampus dunia lainnya yang sudah ada. FEFU dapat lebih dikenal karena dijadikan tempat pelaksanaan KTT APEC 2012 tanggal 8-9 September 2011 dimana hadir pula Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada saat pendirian tahun 1899, universitas ini bernama Institut Ketimuran. Tahun 1956 berganti nama menjadi FENU, dan sejak tahun 2010 menjadi ini FEFU. Jumlah mahasiswa yang studi di berbagai jurusan dan jenjang pendidikan saat ini lebih dari 41 ribu orang, termasuk mahasiswa yang mendalami bahasa Indonesia dan studi Indonesia.

Melihat pentingnya pengembangan hubungan dengan kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, tahun 2006 dibuka jurusan Indonesia di FEFU sehingga mahasiswa dapat mempelajari tentang Indonesia, termasuk bahasanya. Spesialisasi ini merupakan spesialisasi baru di wilayah Timur Jauh Rusia. Namun demikian, peminatnya terlihat peminat yang mempelajari "Jamrud Khatulistiwa".

Jumlah dalam satu kelas memang tidak banyak. Saat ini terdapat 12 mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia. Sementara yang telah lulus sebanyak 10 orang. Dari mahasiswa-mahasiswa yang mempelajari Indonesia ini, hampir sebagian besar pernah ke Indonesia untuk memperdalam bahasa dan budaya Indonesia melalui Program Beasiswa "Darmasiswa" dari pemerintah Indonesia.

Dengan melihat semangat para mahasiswa yang mempelajari Indonesia, pada tahun 2008 didirikan Pusat Kebudayaan dan Studi Republik Indonesia (PKSRI) di FEFU atas inisiatif FEFU  dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Federasi Rusia. Pendirian ini didukung secara aktif oleh Yury A. Moskalyev, seorang pengusaha setempat.

PKSRI  menyelenggarakan serangkaian program kegiatan, seperti kuliah umum tentang sejarah budaya Indonesia, sejarah Indonesia dan hubungan Indonesia-Rusia, pengajaran bahasa Indonesia bagi peminat bahasa Indonesia, penyelenggaraan malam persahabatan, penyelenggaraan perayaan hari nasional dan masyarakat Indonesia dan penyelenggaraan seminar dan pameran.

PKSRI menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya dan pameran untuk memperkenalkan masyarakat Vladivostok dan Primorsky region dengan budaya Indonesia. Selain itu, diselenggarakan pula Hari Budaya Indonesia, Malam Masakan Indonesia, Pameran Batik Indonesia dan lainnya.

Pada bulan September 2009, misalnya, masyarakat Vladivostok dapat melihat langsung pagelaran budaya Indonesia yang dipersembahkan oleh Tim Kesenian "Cantika". Penampilan antara lain mengisi panggung kehormatan pada Festival Film Internasional “Pacific Meridian”.  Pertunjukan tim kesenian Indonesia ini terselenggara atas kerjasama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan KBRI Moskow yang didukung oleh Pemerintah Daerah Primorsky region dan FEFU.

Untuk membantu meningkatkan kualitas mahasiswa dalam mempelajari Indonesia, bahasa pada khususnya, pada tahun 2011 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerjasama dengan KBRI Moskow mendatangkan pengajar Bahasa Indonesia ke FEFU, yaitu Prof. I Gede Budasi. Selain itu, FEFU sendiri menghadirkan pengajar bahasa Indonesia dari Indonesia pada periode 2008-2011, seperti Prof. Suharjo, Agung Darmawan dan Suri Suryani. Sebelum akhir tahun ini, kembali seorang penutur asli Indonesia akan datang untuk mengajar.

Tekad kuat FEFU untuk mengembangkan studi Indonesia sangat besar. Akan tetapi terkendala pada tenaga pengajar. Oleh karena itu, KBRI Moskow terus berupaya bekerjasama dengan Kementeian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mendatangkan tenaga pengajar bahasa Indonesia ke FEFU yang saat ini dalam proses.

Peranan mahasiswa-mahasiswa yang studi Indonesia sangat besar. Indonesianis-Indonesianis muda ini  merupakan generasi baru sebagai penerus hubungan kedua bangsa. Keindonesiaan melekat pada mereka, seperti Valeria, seorang gadis Rusia yang pernah belajar bahasa Indonesia di UNPAK Bogor. Tidak jarang dia membantu sebagai penterjemah pada saat Anak Buah Kapal (ABK) WNI mengalami masalah dengan petugas pengawas perairan Rusia di Vladivostok dan Nakhodka mengenai pelanggaran hukum wilayah penangkapan ikan atau kepiting.

PKSRI diperuntukkan tidak hanya bagi mahasiswa dan staf pengajar Jurusan Asia Pasifik FEFU dan juga pecinta budaya Indonesia serta sahabat Indonesia. PKSRI terbuka untuk siapa saja yang mencintai Indonesia dan memiliki keinginan untuk mempererat hubungan kemitraan dan persahabatan dengan Indonesia, serta informasi tentang Indonesia.

FEFU memiliki hubungan yang erat dengan KBRI Moskow. Berbagai kegiatan bersama sering dilakukan. Dalam beberapa kunjungan ke Vladivostok, diselenggarakan kuliah umum tentang Indonesia dan hubungannya dengan Rusia, termasuk peluang dan tantangannya, seperti saat kunjungan Duta Besar Djauhari Oratmangun pada bulan April 2011 lalu.

Peluang kerjasama di bidang pendidikan dan budaya dengan Timur Jauh Rusia sangat besar. FEFU sudah berencana berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat untuk menjalin kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. ()

Sumber :

http://m.tribunnews.com/2012/09/09/orang-rusia-pun-tergila-gila-dengan-budaya-indonesia

Contoh Kasus Penduduk dan Dinamika Penduduk


Emosi Penduduk Singapura Paling Datar


Penduduk Singapura memiliki masalah dengan emosi mereka. Ini bukan berarti mereka memiliki perasaan negatif atau merusak, tetapi mereka tidak memiliki rasa apapun terhadap segala sesuatu yang dialaminya sehari-hari.

Jon Clifton, peneliti Gallup dan Direktur Gallup Goverment Group dalam situs lembaga konsultan strategik itu, Rabu (21/11/2012) mengatakan, selama ini Singapura dianggap sebagai negera tanpa masalah dalam urusan kesejahteraan warganya.

Singapura menempati negara kedua dalam Indeks Daya Saing Global yang diluncurkan Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2012-2013, peringkat ke-26 dalam Indeks Pembangunan Manusia (HDI) 2011, dan peringkat keempat dalam Angka Harapan Hidup.

Selain itu, Singapura dikenal memiliki tingkat pengangguran yang rendah dan pendapatan per kapita penduduknya termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Kehidupannya pun sangat teratur.

Namun, itu semua tidak menimbulkan perasaan apapun bagi warganya, termasuk rasa senang.

Survei terbaru Gallup yang diumumkan Rabu (21/11/2012) menunjukkan warga Singapura memiliki emosi paling rendah di dunia, baik itu emosi positif atau emosi negatif. Sebaliknya, masyarakat Filipina, hidupnya dipenuhi dengan gejolak sehingga menjadi masyarakat dengan emosi tertinggi di dunia.

Survei melalui telepon ini dilakukan pada 1.000 orang responden berumur lebih dari 15 tahun di lebih dari 150 negara. Mereka ditanya apakah memiliki 5 emosi negatif dan 5 emosi positif pada sehari sebelumnya.

Kelima emosi negatif yang ditanyakan adalah marah, stres, sedih, nyeri fisik, dan khawatir. Sedangkan kelima emosi positif yang diajukan adalah istirahat cukup, banyak tersenyum dan tertawa, dihargai dengan penuh hormat, bersenang-senang, dan belajar atau melakukan sesuatu yang menarik.

Dari setiap jawaban 'Ya', Gallup kemudian merepresentasikannya dalam ukuran penduduk di setiap negara. Dari sini diperoleh, hanya 36 persen penduduk Singapura yang mengalami emosi positif atau emosi negatif tersebut pada hari sebelumnya. Ini berarti 64 persen penduduk Singapura tidak memiliki emosi apapun terhadap hal-hal yang dialaminya sehari sebelumnya.

Berikut ini daftar 10 negara yang emosi warganya paling rendah : 1. Singapura 36 persen 2. Georgia 37 persen 3. Lithuania 37 persen 4. Rusia 38 persen 5. Madagaskar 38 persen 6. Ukraina 38 persen 7. Belarusia 38 persen 8. Kazakhstan 38 persen 9. Nepal 38 persen 10 Kyrgystan 38 persen

Sedangkan, daftar 15 negara dengan emosi paling tinggi adalah :Filipina 60 persen El Salvador 57 persen Bahrain 56 persen Oman 55 persen Kolombia 55 persen Cile 54 persen Kostarika 54 persen Kanada 54 persen Guatemala 54 persen Bolivia 54 persen Ekuador 54 persen Republik Dominika 54 persen Peru 54 persen Nikaragua 54 persen Amerika Serikat 54 persen

Jika emosi positif dan negatif dipisah, Gallup menemukan penduduk Timur Tengah dan Afrika Utara adalah yang paling banyak memiliki 5 emosi negatif itu. Emosi negatif tertinggi dimiliki penduduk Irak, Paletina, dan Bahrain. Negara-negara ini umumnya didera berbagai persolan negatif, seperti kesulitan ekonomi, kerusuhan, revolusi, hingga perang.

Sedang yang paling banyak mendapat emosi positif adalah penduduk negara-negara Amerika Latin. Secara berurutan urutannya adalah Panama, Paraguay, dan Venezuela. Namun ini bukan berarti memiliki emosi negatif yang rendah karena hadirnya emosi positif bukan berarti mereka tidak memiliki emosi negatif.

Meski demikian, emosi negatif itu tidak cukup diatasi dengan ekonomi yang baik. Tingginya pendapatan per kapita (PDB) tidak menjamin warganya memiliki kesejahteraan jiwa yang ditunjukkan melalui gejolak emosi, apapun bentuknya. Singapura sudah membuktikannya.

Clifton menyatakan merasakan pengalaman sehari-hari sangat penting. Jika Singapura ingin masyarakatnya terus maju, maka pemerintahnya perlu membuat terobosan besar agar warganya bisa merasakan kegiatan sehari-hari mereka.

Penelitian yang dilakukan Gallup terhadap pengalaman sehari-hari warga Singapura menunjukkan mulai terjadinya hal-hal yang berkebalikan dengan kondisi ekonomi mereka. Tingkat kebahagiaan warga mulai menurun, demikian pula stimulasi intelektual, penghargaan atau penghormatan terhadap yang lain, bahkan perasaan memiliki istirahat yang cukup.

"Pemimpin Singapura perlu membuat strategi diluar batas-batas tradisional ekonomi klasik dengan menyertakan aspek kesejahteraan untuk memperbaiki kualitas hidup warganya," tulis peneliti Gallup dalam pernyataannya.

sumber :


http://oase.kompas.com/read/2012/11/22/23331342/Emosi.Warga.Singapura.Paling.Datar



Contoh Kasus Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat


PSK dan Warga Hidup Berdampingan di Sarkem

Sebuah rumah ibadah berdiri di salah satu sudut perkampungan Pasar Kembang alias Sarkem, Yogyakarta. Di pojok lainnya, bisa ditemui sekolah, termasuk anak-anak sekolah yang hilir mudik di gang-gang di perkampungan. Kehidupan di perkampungan ini terlihat berjalan normal layaknya perkampungan lainnya, yang bukan kawasan prostitusi.  

"Tidak semua yang tinggal di sini berbisnis esek-esek. Jadi fasilitas seperti masjid dan sekolahan bisa berada di sini sebagai fasilitas warga," ujar Atong, salah satu warga Sosrowijayan, akhir pekan lalu.

Di kawasan ini pun tidak pernah terjadi penolakan warga atas aktivitas lokalisasi Sarkem. Warga bahkan merasa mendapat tambahan pendapatan dengan membuka warung minuman, rokok, dan makanan. 

"Warung selain menjadi mata pencarian juga menjadi tanda bahwa rumah tersebut rumah warga biasa," ujar Pak Dhe, tukang becak yang juga menjadi penghubung dan pengantar pengunjung lokalisasi.

Tukang becak-tukang becak yang berjajar di sekitar Stasiun Tugu memang biasa mendapat pekerjaan sambilan. Penumpang kereta yang baru datang ke Yogya biasanya menjadi sasaran mereka untuk mendapat uang tambahan.

"Biasanya saya dapat tips dari pengunjung, nah dari mami saya juga dapat. Jadi saya dapat dobel. Soal jumlahnya tidak bisa saya rata-rata, terserah mereka. Tapi biasanya kisaran Rp 50.000," ujar Pak Dhe.

Menurut salah satu PSK yang tidak mau disebutkan namanya, lokalisasi di kota gudeg ini akan selalu tumbuh subur. "Kami selalu membayar pajak setiap bulannya, jadi lokalisasi ini aman dari razia," kata si PSK dengan yakin.

sumber :

http://regional.kompas.com/read/2012/10/02/15463068/PSK.dan.Warga.Hidup.Berdampingan.di.Sarkem


Contoh Kasus PRASANGKA, DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME

Demo Anti-Israel, Warga Tasikmalaya meminta McD dan KFC Ditutup Paksa



Ribuan santri dari Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya, yang berunjuk rasa mengecam agresi militer Israel ke Palestina, mendatangi dan meminta restoran makansiap saji asal Amerika Serikat di Tasikmalaya ditutup. Kedatangan para santri membuat restoran siap saji McDonald's dan KFC di Jalan HZ Mustofa tutup, Rabu (21/11/2012) siang.

Aksi itu merupakan rangkaian unjuk rasa para santri mengecam serangan Israel ke Palestina. Sebelumnya, demonstran berkumpul di kawasan Tugu Adipura Tasikmalaya sembari diguyur hujan. Massa pun berjalan kaki menuju Jalan HZ Mustofa dan meminta restoran siap saji asal Amerika Serikat di kawasan itu ditutup. Sontak pengunjung restoran yang tengah makan pun membubarkan diri.

"Ini bentuk solidaritas kami terhadap jatuhnya korban muslim di Palestina oleh Israel. Kami minta toko asal Amerika ini tutup selama tiga hari," terang salah satu koordinator aksi, Hj Daliah Mutiara Affandi.

Jika tuntutan pendemo tidak direalisasikan, kata Daliah, pihaknya akan mendatangkan massa lebih banyak lagi. Mereka menyatakan menutup dua restoran siap saji itu karena menjadi salah satu antek Amerika Serikat.
"Kami hanya menunjukkan kepedulian terhadap Palestina," tandas Daliah.

Akibat aksi para santri ini, Jalan HZ Mustofa macet total. Sebab, pengunjuk rasa berjalan kaki sepanjang jalan kawasan bisnis itu sembari meneriakkan protes terhadap Israel. Aksi ini dikawal petugas dari Polres Tasikmalaya Kota.

sumber :

http://regional.kompas.com/read/2012/11/21/15403194/Demo.Anti-Israel.McD.dan.KFC.Ditutup.Paksa

Contoh Kasus Pemuda dan Sosialisasi



Beginilah Praktik PSK Muda di Pantai Ria Kolaka...


Jam baru menunjukkan pukul 21.00 Wita. Sabtu malam. Suasana di Pantai Ria Kolaka, Sulawesi Tenggara, kian ramai. Deretan kendaraan roda dua maupun roda empat terparkir rapi di beberapa sudut pantai kira-kira sepanjang satu kilometer.

Ingar-bingar suara musik dari sound system ala kadarnya terdengar dari kafe tenda remang-remang. Para pelayan kafe pun terlihat sibuk melayani pengunjung yang umumnya merupakan pasangan muda-mudi.

Di sudut pantai lainnya, aroma ikan bakar tercium dari deretan warung tenda yang menyajikan anekaseafood. Pantai Ria Kolaka memang menjadi salah satu lokasi favorit bagi anak muda Kolaka, khususnya yang ingin menghabiskan malam minggu dengan menikmati keindahan panorama pantai.

Tetapi, di salah satu sudut pantai lainnya, sekumpulan wanita yang rata-rata masih berusia muda dengan dandanan lumayan seksi terlihat asyik bercengkerama. Kepulan asap rokok keluar dari hidung dan mulut para remaja yang rata-rata berusia di bawah 20 tahun itu. “Saya pergi duluan nah, ada mijemputanku,” ujar salah seorang di antara mereka yang kemudian terlihat masuk ke dalam sebuah mobil dan pergi entah ke mana.

Bagi yang sudah terbiasa dengan kehidupan malam di Pantai Ria Kolaka, keberadaan para wanita muda ini sudah tidak asing lagi. Mereka merupakan pekerja seks komersial (PSK) yang kerap mangkal di sana. Jumlahnya dulu bisa mencapai belasan, tetapi seiring dengan tidak beroperasinya lagi perusahaan tambang di Kolaka, jumlah mereka juga kian berkurang. Mereka yang masih bertahan pun biasanya merupakan PSK lokal asal Kolaka.

MK misalnya, dia bercerita bahwa bisnis “pelacuran pinggir jalan” tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun. “Oh, kalau yang di pantai itu sudah lama, perempuannya pun adalah pemain lama. Mereka di sana itu kalau sudah jam 10 malam mulai keluar semua, biasanya mereka nongkrong di dalam kafe, setelah itu pasti hilang satu-satu,” ungkapnya.

Meskipun bisnis pelacuran ini di pinggir jalan, tetapi para PSK yang ada tidak secara terang-terangan berdiri di pinggir jalan kemudian menjajakan dirinya...

Uniknya, meskipun bisnis pelacuran ini di pinggir jalan, tetapi para PSK yang ada tidak secara terang-terangan berdiri di pinggir jalan kemudian menjajakan dirinya. “Di sini itu berbeda, Pak, dengan daerah lain. Memang mereka itu pemain lama, tapi tidak berdiri di pinggir jalan. Namun, kalau orang yang sudah lama tinggal di Kolaka, tinggal datang di pantai, pasti dapat,” tambahnya.

Itulah yang membedakan “bisnis pelacuran pinggir jalan” di Kolaka dengan daerah lain. Selain tidak menampakkan diri di pinggir jalan, mereka juga berpakaian tidak terlalu mencolok. Padahal, kalau dinilai dari standar kelasnya, yang di pinggiran pantai inilah PSK yang paling bawah. Dengan kocek Rp 250.000 hingga Rp 750.000, lelaki hidung belang sudah bisa melampiaskan nafsunya.

“Walaupun kami bekerja sebagai PSK, tidak mungkin kami berdiri di pinggir jalan untuk cari pelanggan. Di Kolaka orang pasti sudah tahu kok di mana tempat kami nongkrong. Biasanya kalau yang sudah akrab dengan kami itu tidak membayar, mereka membeli saja minuman keras, kita minum sama-sama, setelah itu terserah mereka mau bawa kami ke hotel atau langsung pulang,' ungkap MK.

Oh, jadi mainnya itu di hotel, bukan di rumah kos atau ada tempat lain?  "Iya dong, harus di hotel,” ungkap BM saat menceritakan aktivitasnya ketika malam hari.

Dia menambahkan, masalah tarif relatif bagi PSK di sini. “Kalau yang baru kenal biasa sampai dengan Rp 100.000, tapi kalau yang sudah biasa, Rp 50.000 pun sudah jadi. Kami tidak memakai perantara, kami lebih senang bertemu langsung dengan calon pelanggan kami agar bisa lebih lama lagi bekerja sama, kan kalau sudah kenal bisa berlanjut,” cetusnya ringan.

Namun, pekerjaan mereka ini jelas bukan tanpa risiko. Hampir setiap malam jumat atau malam minggu mereka ditangkap polisi atau Satpol PP. “Kalau ada razia, kita kan biasanya tidak tahu. Tiba-tiba saja datang diangkut ke kantor mereka. Setelah diberi pembinaan kami pulang lagi. Terus terang saja, Pak. Kita bekerja sebagai PSK itu, selain untuk kesenangan, juga untuk makan,” tutupnya.


sumber :





Contoh Kasus Negara & Warga Negara


Ogah Digusur, Warga Bakar Ban dan Tutup Jalan


Ratusan warga Kampung Sawah, Cilincing, Jakarta Utara menggelar aksi protes dengan melakukan demonstrasi di Jalan Raya Cakung Cilincing terkait isu penggusuran. Warga yang berorasi memprotes adanya rencana penggusuran itu membakar ban mobil bekas sehingga menutup lokasi jalan.

Kepala Polisi Resor Metro Jakarta Utara, Kombes Muhammad Iqbal mengatakan, aksi tersebut terjadi lantaran warga mendapat informasi tempat tinggalnya akan digusur. Saat ini polisi sudah mengamankan kondisi tersebut dan mencegah gangguan keamanan dan ketertiban karena massa yang sudah mulai membakar ban di lokasi dan menutup jalan.

"Iya ada demo, ini soal penggusuran. Jadi warga di sini dapat isu bahwa akan digusur hari ini oleh pengadilan, makanya warga turun ke jalan demo," kata Iqbal, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (28/11/2012).
Kapolres mengatakan, saat ini tengah melakukan negosiasi dengan pengunjuk rasa untuk menghentikan aksi dan mencegah tindak anarkis lebih lanjut. "Situasi sudah kami amankan, sudah berangsur kondusif. Memang ada pembakaran ban tadi ya di jalan, tapi sudah kami kondusifkan untuk mencegah gangguan kamtibmas," ujar Kapolres.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, aksi tersebut terkait rencana penggusuran lahan seluas 33 hektar di atas tempat tinggal warga. Di atas lahan itu ditempati oleh 1.500 kepala keluarga atau sebanyak 7.789 jiwa. Aksi yang mulai digelar sejak pukul 07.00 WIB pagi ini sempat membuat aparat kepolisian kewalahan dan menyebabkan kemacetan.


sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/11/28/10164377/Ogah.Digusur.Warga.Bakar.Ban.dan.Tutup.Jalan

Implementasi Ilmu Pengetahuan dan Kemiskinan

Nenek Jual Es untuk Kuliahkan Cucu...



Petronela Naben (69) namanya. Nenek yang satu ini sungguh luar biasa. Di usianya yang sudah senja, semangat kerjanya begitu tinggi, dan bahkan menjadi berkat buat banyak orang, terutama keluarganya. Buktinya, hanya dengan menjual es mambo milik majikannya, sang nenek mampu membiayai sekolah empat orang cucunya, bahkan seorang cucunya saat ini duduk di bangku perguruan tinggi.

Nenek Nela panggilan akrabnya mengaku sudah menggeluti profesi sebagai penjual es keliling sejak tahun 1970. bahkan, ia mengaku sudah mengabdi dan bekerja kepada majikannya sejak tahun tahun 1965 sebagai pembantu rumah tangga. Namun lima tahun kemudian, dia merangkap sebagai penjual es,  hingga hari ini.

"Setiap hari saya bawa es sebanyak Rp 50.000 dan kalau habis terjual saya dapat 20 persen. Uang tersebut saya simpan di bank untuk membiayai empat orang cucu adik saya di kampung. Cucu yang satu sekarang ini kuliah di Universitas Timor jadi saya rutin membayar semua keperluannya," kata Nela.

Nenek Nela yang berasal dari Eban, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur ini memilih tinggal di rumah majikannya di Kelurahan Kefamenanu Tengah, Kecamatan Kota kefamenanu, TTU.

Dia mengatakan, setiap pagi sekitar pukul 09.00 Wita dia sudah keluar dari rumah membawa es yang disimpan dalam termos berukuran sedang dengan lokasi jualan di sekolah serta di pasar. Sekitar pukul 16.00, s yang dibawa pasti habis terjual. Nenek Nela juga sempat berkeluh kesah lantaran dirinya pernah dijanjikan oleh pemerintah setempat untuk mendapatkan bantuan, tetapi tidak pernah direalisasikan.

"Saya pernah diminta foto oleh ketua RT yang katanya mau dapat bantuan, tetapi bantuan itu tidak pernah saya terima sampai sekarang," kata Nenek Nela.

sumber :

http://regional.kompas.com/read/2012/11/28/10193778/Nenek.Ini.Jual.Es.Kuliahkan.Cucu